berita

Deep Learning Menjadi Pembelajaran yang Diterapkan Pada Kurikulum Merdeka

Deep Learning Menjadi Pembelajaran yang Diterapkan Pada Kurikulum Merdeka


Istilah deep learning tengah menjadi perhatian di dunia pendidikan setelah disampaikan oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Ia menegaskan bahwa deep learning bukan kurikulum baru dan tidak menggantikan Kurikulum Merdeka, melainkan pendekatan pembelajaran untuk membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam.

Konsep ini sebenarnya telah diperkenalkan sejak 1976 oleh Marton dan Säljö, dan kini berkembang seiring kemajuan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Dalam pendidikan, deep learning berfokus pada proses belajar yang melibatkan pemikiran mendalam dan pengalaman nyata.

Pendekatan ini didukung oleh tiga pilar utama:

  • Mindful learning: melatih berpikir kritis dan pemecahan masalah melalui aktivitas seperti diskusi, eksperimen, dan proyek.
  • Meaningful learning: memberikan pengalaman belajar yang bermakna sehingga siswa memahami manfaat materi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Joyful learning: menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan membuat siswa aktif secara fisik dan mental.

Dalam praktiknya, guru dituntut kreatif dan inovatif agar pembelajaran menjadi menarik dan berpusat pada siswa. Contohnya pada materi “manfaat air”, siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga berdiskusi tentang pentingnya menjaga lingkungan serta melakukan praktik sederhana seperti membuat alat penjernih air.

Melalui penerapan tiga pilar tersebut, diharapkan pembelajaran menjadi lebih aktif, bermakna, dan menyenangkan, sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan pemahaman siswa secara menyeluruh.


A

Ditulis Oleh

Administrator

Tim Publikasi Sekolah.